Sabtu, 30 November 2013

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN



NAMA                                  :  HUSNA SARI AGUSTINA
NPM                                      :  8126141009
M.KULIAH                           :  FILSAFAT PENDIDIKAN
PROGRAM STUDY           :  PPs PEND.KIMIA (KELAS REGULER A)
                                                           
Soal :
1.      Mengapa kehidupan manusia semakin kacau menurut kajian filosofis. Jelas menurut pandangan Suparlan?
2.      Bandingkanlah orientasi hidup guru dengan orientasi kuantitatif materialistik dan orientasi kualitatif spiritual menurut Suparlan?
3.      Jelaskan tiga tingkatan berfikir ilmiah menurut Suparlan. Berikan contoh dan mana yang paling ideal?
4.      Jelaskan apabila manusia menjdai bagian masalah dan apabila menjadi solusi masalah menurut Sukidi?
5.      Jelaskan makna The Spirit Goodness bagi seorang guru?

Jawab :
1.      Menurut kajian filosofis, kehidupan manusia semakin kacau karena di era pasca-industrialisasi ini, kehidupan manusia menjadi tidak realistik dan cenderung menjadi semu.Manusia bersedia untuk mencukupi kebutuhan sekunder dengan mempertaruhkan nilai nilai substansial, seperti nilai kemanusiaan, kealaman dan keilahian. Sehingga mereka bertindak berdasarkan tingkah laku yang didorong oleh nafsu keserakahan. Dan menurut Suparlan, kekacauan manusia disebabkan oleh pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana hanya sebagian orang saja yang telah bisa menikmati apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut sehingga mereka hanya  mementingkan diri sendiri. Dan fakta menunjukkan bahwa pelaku-pelaku tindak kejahatan di segala bidang adalah justru orang-orang yang terdidik.
2.      Orientasi hidup seorang guru yaitu guru dalam mencapai tujuan hidup ilmu pengetahuan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi siswa sebagai siswa didiknya, dan guru sebagai contoh teladan pedoman hidup membentuk cara dan sikap hidup yang baik dalam praktek kehidupan sehari- hari, dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik ke depannya.
Orientasi kualitatif materialistik yaitu manusia yang dalam hidupnya hanya berfikir tentang dunia materi , harta kekayaan, yang selalu di hitung nilainya dengan uang tunai tanpa memikirkan baik dan buruk nya sifat egonya itu terhadap orang lain di lingkungan masyarakat. .
Orientasi kualitatif spiritual yaitu manusia yang cara berfikir nya lebih mengutamakan segala sesuatu perilaku dan sikap dalam tindakan sesuai dengan aturan hati nurani dan keagamaan sesuai keyakinan masing- masing tanpa memikirkan adat istiadat yang ada di lingkungannya masing-masing.

3.      Tiga tingkatan berfikir ilmiah menurut Suparlan yaitu
a.       Pada tingkatan pengetahuan filosofis substansial,
b.      Pada tingkatan pengetahuan ilmiah – teoritis
c.       Pada tingkatan pengetahuan ilmiah – praktis – teknologis.
Contohnya adalah pada makanan. Didalam makanan terkandung nilai filosofis yaitu kesehatan. Dan nilai ilmiah teoritis nya pada kelengkapan gizi. Sedangkan nilai ilmiah- praktis berupa pluralitas makanan dalam jenis, bentuk dan kualitas yang cenderung bersangkutan dengan rasa nikmat. Antara kesehatan dan rasa nikmat itu berjarak begitu jauh dan hampir tidak berhubungan secara kausalistik. Pengalaman justru sering membuktikan bahwa kesehatan dirusak oleh rasa nikmat itu. Dan yang paling ideal adalah berfikir pada tahapan ilmiah-teoritis.
4.      Manusia menjadi bagian masalah karena manusia jugalah yang menyebabkan terjadinya       suatu permasalahan tersebut, terutama masalah dengan krisis lingkungan global dan terkoyaknya komunitas sosial di berbagai belahan dunia yang sudah merambah setiap sudut kehidupan kita, mulai dari kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan, hubungan sosial, ekonomi, teknologi, politik dan bahkan merasuk ke dalam krisis moral, intelektuall dan krisis spiritual. Dan,
Manusia dapat menjadi solusi dalam suatu masalah dengan menghidupkan kembali dan sekaligus berkiblat ke hati nurani sebagai standar moral autentik untuk menilai keautentikan diri, paling tidak terhadap diri sendiri. Kita bisa saja berbohong kepada sesama, bahkan kepada rakyat sekalipun. Tetapi, tidak sama sekali terhadap hati nurani kita.
5.      Makna The Spirit of Goodness bagi seorang guru adalah guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter yang memiliki pengaruh  memberikan motivasi kepada murid-muridnya agar menjadi anak yang berjiwa positif, karena memberi motivasi merupakan kewajiban tak tertulis bagi seorang guru terhadap muridnya. Dalam Spirit of goodness, guru juga bersikap :
·         Adil (Tidak Pilih Kasih), artinya tidak memihak antara yang satu dengan yang lainnya.sehingga memunculkan potensi kreatif, dan memunculkan rasa cinta belajar pada anak didik. 
·         Menjadi Suri Tauladan, artinya mampu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas diteladani karena murid lebih butuh kepada figur yang mampu memberikan bimbingan moral,
·         Bijaksana terhadap murid, maksudnya adalah guru  mampu mengendalikan dirinya dengan baik dan memandang muridnya sebagai bagian dari hidupnya. Ada saatnya guru bersikap lembut penuh kasih, dan ada saatnya guru harus bersikap tegas dan keras kepada murid-muridnya.
·         Memiliki Kesabaran, dimana guru harus sabar membimbing, mengarahkan dan memberi motivasi kepada murid terutama murid yang agak lemah agar dapat tumbuh seperti murid-murid lainnya.
·         Tidak Suka Marah, sebab kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah persoalan baru.Marah yang dilakukan tanpa alasan yang jelas akan menimbulkan sikap antipati di kalangan murid mengakibatkan komunikasi tidak akan dapat terjalin dengan baik.
·         Memerintah Dengan Cara Yang Menyenangkan,  dalam memerintah guru harus mempertimbangkan kemampuan dan kondisi muridnya, tidak diskriminasi dan pemaksaan.
·         Mampu Merangsang Murid Berkreasi, sebab dengan kreatifitaslah anak anak mampu mengekspresikan dirinya dan mampu menuangkan semua kemampuannya dalam dunia nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar